• Thu, Oct 2026

Klinik Bunda DAMRI, Perkuat Keselamatan, Kesehatan Pramudi Jadi Garda Pertama

Klinik Bunda DAMRI, Perkuat Keselamatan, Kesehatan Pramudi Jadi Garda Pertama

Keselamatan transportasi publik tidak hanya ditentukan oleh kelaikan armada. Kondisi kesehatan orang yang berada di belakang kemudi juga menjadi faktor penting. Dengan prinsip itu, DAMRI memperkuat sistem keselamatan operasional bus melalui kehadiran Unit Kesehatan Kerja Bunda DAMRI yang pertama kali beroperasi di Depo Transbusway DAMRI Klender, Jakarta.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Unit kesehatan tersebut diperkenalkan melalui soft launching Unit Kesehatan Kerja SBU Transbusway Perum DAMRI pada 19 September 2026. Fasilitas yang dikembangkan bersama Bunda Ika Medica itu diarahkan tidak hanya untuk memberikan pelayanan ketika pekerja mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga mendukung upaya promotif, preventif, dan deteksi dini terhadap risiko kesehatan yang dapat memengaruhi kesiapan bekerja.

Bagi DAMRI, pendekatan tersebut memiliki kaitan langsung dengan keselamatan perjalanan. Para pramudi bus berada pada posisi penting karena setiap hari berhadapan langsung dengan kondisi jalan, lalu lintas, jadwal operasional, tekanan pekerjaan, dan tanggung jawab membawa penumpang sampai ke tujuan dengan selamat.

Direktur SDM dan Umum DAMRI Peppy Fachrial mengatakan kualitas pelayanan transportasi tidak hanya dibangun melalui armada dan fasilitas, tetapi juga bergantung pada kesiapan sumber daya manusia yang menjalankan operasi.

“Bagi DAMRI, memberikan pelayanan transportasi yang baik tidak hanya dimulai dari armada dan fasilitas, tetapi juga dari Insan DAMRI yang berada di balik setiap perjalanan. Para pramudi bus memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan perjalanan yang aman dan nyaman bagi pelanggan. Karena itu, kesehatan mereka menjadi bagian penting yang perlu kami perhatikan dan dukung secara berkelanjutan,” ujar Peppy.

1WhatsApp Image 2026-10-01 at 15.26.26


Kehadiran Unit Kesehatan Kerja sekaligus menunjukkan pendekatan yang lebih luas terhadap keselamatan transportasi. Kelaikan kendaraan tetap menjadi unsur utama, tetapi kendaraan yang laik juga harus dioperasikan oleh pekerja yang berada dalam kondisi fisik dan mental yang mendukung tugasnya.

Perspektif tersebut mengemuka dalam sambutan Kepala Divisi Keselamatan dan Pengawasan Operator PT Transportasi Jakarta, Roy Julius Rumuat. Ia mengaitkan kesehatan pengemudi dengan konsep safer road user atau pengguna jalan yang berkeselamatan.

Menurut dia, aspek kelaikan dalam sistem transportasi tidak berhenti pada armada. Manusia yang mengoperasikan kendaraan juga harus memenuhi aspek kelaikan. Karena itu, pemeriksaan kesehatan menjadi instrumen penting untuk mengetahui kondisi pengemudi sebelum faktor kesehatan berkembang menjadi risiko dalam operasi.

Roy menyebut pramudi sebagai “garda terakhir” dalam sistem keselamatan. Posisi tersebut membuat kondisi kesehatan pengemudi menjadi penting karena berbagai lapisan sistem keselamatan pada akhirnya bertemu dengan keputusan dan tindakan manusia di lapangan.

“Pramudi adalah garda terdepan,” ujarnya. Konsekuensinya, pendekatan keselamatan tidak cukup apabila baru dilakukan setelah terjadi masalah. Kondisi kesehatan perlu dipantau sehingga faktor risiko dapat dikenali lebih awal dan ditangani sebelum memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengemudikan kendaraan.

Roy antara lain menyinggung persoalan berat badan, pola istirahat, kualitas tidur, hingga potensi microsleep. Faktor-faktor tersebut menjadi relevan bagi pekerjaan pengemudi yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu panjang.

Ia juga menekankan pentingnya waktu istirahat dan kualitas tidur. Dalam konteks pekerjaan yang berkaitan langsung dengan keselamatan, istirahat bukan sekadar persoalan kenyamanan pekerja, tetapi menjadi bagian dari manajemen risiko operasional.

Karena itu, Transjakarta berharap Unit Kesehatan Kerja DAMRI dapat memperkuat kegiatan promotif dan preventif serta deteksi dini terhadap kondisi kesehatan pekerja. Pendekatan tersebut diharapkan membantu mengurangi risiko ketidaklaikan pramudi yang berpotensi berdampak pada keselamatan perjalanan.

Bukan Sekadar Tempat Berobat

CEO Bunda Ika Medica, dr. Sharifah Soraya, menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan kerja memiliki karakter berbeda dibandingkan pelayanan klinis pada umumnya. Pemeriksaan kesehatan pekerja perlu memperhitungkan jenis pekerjaan serta paparan dan beban yang dihadapi seseorang dalam menjalankan tugas.


Untuk pengemudi, misalnya, tenaga kesehatan perlu memahami berapa lama pekerja berada dalam posisi duduk, tekanan yang dihadapi di jalan, tingkat stres, serta karakteristik lain yang melekat pada pekerjaannya.

“Kalau kita bicara kesehatan kerja itu pasti kita akan fokus sama pramudi ini kerjanya sehari-hari seperti apa, duduknya berapa lama, stresnya di jalan, pressure-nya seperti apa. Itu yang biasanya nanti kami akan tinjau,” kata Sharifah.

3WhatsApp Image 2026-10-01 at 15.26.27

Dengan pendekatan tersebut, Unit Kesehatan Kerja tidak semata-mata menjadi tempat pekerja datang ketika sakit. Fasilitas kesehatan dapat berperan lebih awal melalui pemantauan, edukasi, pemeriksaan dan identifikasi faktor risiko yang berkaitan dengan pekerjaan.

Sharifah menggambarkan tujuan akhirnya secara sederhana: pekerja datang ke DAMRI dalam kondisi sehat, tetap sehat selama bekerja, dan ketika kelak meninggalkan perusahaan juga tetap berada dalam kondisi sehat.

Bunda Ika Medica menyatakan kesiapan untuk mendukung peningkatan kesehatan pekerja dan pengemudi DAMRI. Menurut Sharifah, kesadaran perusahaan terhadap kesehatan kerja menjadi penting karena aspek tersebut dalam praktiknya tidak selalu memperoleh perhatian sebesar persoalan lain dalam hubungan kerja.

Pendekatan kesehatan okupasi ini membuat hubungan antara pelayanan kesehatan dan keselamatan operasional menjadi semakin dekat. Informasi kesehatan tidak berhenti sebagai hasil pemeriksaan, tetapi dapat menjadi dasar tindakan preventif sesuai risiko yang ditemukan pada pekerja.

Bagi perusahaan transportasi, perubahan dari pendekatan kuratif menuju preventif menjadi penting karena karakter pekerjaan pengemudi berbeda dengan banyak profesi lainnya. Penurunan kondisi fisik, kelelahan atau berkurangnya konsentrasi dapat memiliki konsekuensi bukan hanya bagi pekerja, tetapi juga bagi penumpang dan pengguna jalan lainnya.

Karena itu, keberadaan fasilitas kesehatan di lingkungan operasional memungkinkan pekerja memperoleh akses pemeriksaan lebih dekat. Kondisi tertentu dapat diketahui lebih awal, sementara edukasi mengenai pola hidup, istirahat, aktivitas fisik dan faktor kesehatan lainnya dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Peppy mengatakan Unit Kesehatan Kerja SBU Transbusway menjadi salah satu bentuk perhatian DAMRI terhadap kesehatan dan kesejahteraan pekerja. Keberadaannya diharapkan memperkuat upaya promotif dan preventif sekaligus mendorong pekerja semakin memperhatikan kondisi kesehatannya.

“Keselamatan tidak hanya berkaitan dengan armada dan operasional, tetapi juga kesiapan setiap insan yang menjalankan layanan. Dengan kondisi Insan DAMRI yang sehat dan prima, kualitas pelayanan kepada Pelanggan dapat terus dijaga,” katanya.

Unit Kesehatan Kerja tersebut berlokasi di Depo DAMRI Klender dan terutama mendukung pekerja SBU Transbusway yang menjalankan operasi bus listrik DAMRI pada layanan Transjakarta.

Bangun Jejaring Pelayanan Kesehatan

DAMRI tidak menjalankan penguatan kesehatan pekerja tersebut sendirian. Soft launching Unit Kesehatan Kerja dihadiri Bunda Ika Medica, Transjakarta dan sejumlah mitra layanan kesehatan, termasuk Mayapada Hospital, RSUD Cengkareng, RSPAD Gatot Soebroto, Rumah Sakit Pusat Pertamina serta Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118.

2WhatsApp Image 2026-10-01 at 15.26.26


Dalam rangkaian kegiatan itu, DAMRI juga melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding dengan Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118 mengenai pelayanan kesehatan. Penandatanganan tersebut menjadi bagian dari pengembangan jejaring pelayanan yang mendukung Unit Kesehatan Kerja.

Kolaborasi menjadi penting karena kebutuhan kesehatan pekerja transportasi dapat berada pada tingkatan berbeda, mulai dari promosi kesehatan dan pemeriksaan rutin hingga kebutuhan rujukan dan penanganan kegawatdaruratan.

Dengan demikian, Unit Kesehatan Kerja dapat ditempatkan sebagai titik awal dari ekosistem pelayanan yang lebih luas, bukan sebagai fasilitas yang berdiri sendiri.

Untuk awal mula, penguatan kesehatan pekerja akan bertahap mulai dari pengoperasian 316 unit bus listrik dalam ekosistem Transjakarta.

Jumlah tersebut menempatkan DAMRI sebagai operator dengan armada bus listrik terbanyak pada layanan Transjakarta. Ekspansi kendaraan rendah emisi itu membawa konsekuensi lain: kesiapan sumber daya manusia perlu berkembang bersama pertumbuhan armada.

Investasi transportasi publik, dengan demikian, tidak hanya menyangkut kendaraan, baterai, depo dan infrastruktur pendukung. Di belakang teknologi tersebut terdapat pengemudi, teknisi, petugas operasional dan pekerja lain yang menentukan apakah layanan dapat berjalan secara aman dan andal.

Ke depan, Klinik Bunda DAMRI akan bertahap dioperasikan pada seluruh wilayah operasional dari se Indonesia. Dalam konteks itulah Unit Kesehatan Kerja Bunda DAMRI memperoleh arti lebih luas. Fasilitas tersebut menjadi salah satu lapisan dalam sistem keselamatan—bersama kelaikan armada, prosedur operasi, kompetensi pengemudi dan pengawasan.

DAMRI menyatakan akan terus memperkuat aspek kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan pekerja sebagai bagian dari peningkatan kualitas operasional. Perusahaan juga mengapresiasi Bunda Ika Medica, Transjakarta serta rumah sakit dan mitra kesehatan yang mendukung pengembangan Unit Kesehatan Kerja tersebut.

Pada akhirnya, perjalanan yang aman tidak hanya dimulai ketika bus meninggalkan depo. Keselamatan dimulai lebih awal: ketika kendaraan dipastikan laik jalan dan orang yang duduk di belakang kemudi dipastikan sehat, cukup siap, dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik.